Menjadi Dewasa di Surabaya

Masih dengan saya, Febby Arum Sukmawati seorang mahasiswi Fisika di Universitas Airlangga yang akan menceritakan tentang bagaimana saya menjadi dewasa di Surabaya. Pertama kali saya merasakan hidup sendiri di Surabaya dimulai saat ospek, waaaah ribet banget saat itu karena banyak barang-barang yang dibutuhkan untuk perlengkapan sementara saya kebingungan dimana mencarinya. Saat itu, saya masih belum mengenal banyak orang sehingga saya meminta bantuan kepada teman SMA saya yang juga mencari perlengkapan ospek dan masih bingung arah. Saya bersyukur karena akhirnya semua perlengkapan dapat diperoleh. Kira-kira itu terjadi sebelum dimulai ospek fakultas. Setelah ospek fakultas, tiba saatnya ospek jurusan dimana perkuliahan sudah dimulai beberapa hari sebelumnya. Untungnya, saat itu saya sudah mengenal teman-teman baru dari prodi saya sendiri sehingga saya bisa meminta bantuan dan juga memberi bantuan pada teman-teman baru saya. Semester 1 merupakan saat dimana saya merasakan perubahan drastis dari saat belajar di SMA dan mulai merasakan perkuliahan. Di SMA, jadwal setiap harinya selalu teratur dan saya harus bangun pagi, tetapi saat kuliah jadwal menyesuaikan dengan kelas yang diambil dan tidak harus masuk pagi setiap hari. Di bangku kuliah, saya tidak perlu menyiapkan seragam lagi tetapi saya harus berpakaian bebas dan sopan untuk masuk kelas. Semester 1 lumayan menyibukkan saya dan membuat saya tertekan karena setiap minggu saya mendapatkan tugas membuat tiga laporan praktikum. Namun, semua kesibukan dan tekanan yang saya lalui membuat saya lebih kuat dan lebih cepat dalam mengerjakan sesuatu. Di semester 1 juga saya mulai familiar dengan daerah sekitar kampus sehingga saya sudah mengetahui dimana saja tempat saya dapat memenuhi kebutuhan atau belanja mingguan. Saya mulai merasa nyaman belajar di Surabaya.

Di semester 1 saya benar-benar merasakan rasanya hidup tanpa didampingi orang tua secara langsung. Saya baru merasakan yang namanya pulang kampung kira-kira baru setelah 4 bulan lebih saya tinggal di Surabaya. Walaupun di awal butuh adaptasi tetapi saya memaklumi karena cepat atau lambat setelah kita menempuh pendidikan pasti nantinya akan mengatur hidup kita sendiri tanpa dibantu orang tua lagi sehingga saya menganggap belajar di luar kota merupakan langkah awal untuk mempelajari kehidupan setelah kuliah. Di akhir semester 1 saya merasa sangat bersyukur karena saya mengenal teman yang berasal dari asal yang sama dan dia telah berjasa membantu dan mendukung saya sehingga semester 1 ini dapat saya lewati. Saya kembali menemukan kehadiran seorang sahabat setelah sekian lama saya berpisah dengan sahabat saya di SMA dan itu sangat membantu sekali meningkatkan semangat belajar saya. Saya menemukan tempat yang tepat untuk bertukar pikiran dan berkeluh kesah karena dia sangat berpikiran terbuka dan dia adalah pendengar yang baik. Pada akhirnya semester 1 tidak semenakutkan yang saya pikirkan saat pertama kali menginjakkan kaki di Timur Jawa Dwipa, Universitas Airlangga.

Semester 2, saya sudah mendapatkan beberapa pengalaman dari semester sebelumnya sehingga saya sudah tidak perlu bersusah payah menyesuaikan diri dengan tempat melainkan saya tinggal fokus saja dengan perkuliahan. Di semester ini saya merasakan bahwa diri saya sudah lebih tahan banting daripada semester sebelumnya. Manajemen waktu saya mulai teratur untuk perkuliahan meski untuk kegiatan di luar perkuliahan masih relatif kurang teratur karena baru semester ini saya bisa mengikuti kepanitiaan. Semester 2 merupakan awal saya bisa mengembangkan sayap karena di semester 1 masih disibukkan dengan ospek jurusan yang berlangsung kurang lebih 4 bulan. Di awal semester 2 saya mendapatkan semangat baru Karena liburan semester yang cukup lama. Saya mulai terbiasa dengan jadwal baru di semester 2 karena di semester ini saya diharuskan mengambil 19 SKS mata kuliah wajib. Selama ini saya tinggal di asrama dan hal itu juga berperan penting dalam proses adaptasi saya di Surabaya selama hampir setahun ini. Saya merasa dimudahkan dengan diterima menjadi penghuni asrama di area kampus karena saya tidak perlu menempuh perjalanan jauh menuju kampus. Di awal perkuliahan saya merasa takut dan tidak yakin bisa menjalani semua ini, tetapi sekarang saya merasa yakin dan lebih semangat menempuh semester-semester yang akan datang.

Comments